Cerita gay ngentot kontol – Inilah pertama kalinya aku kencan sesama pria di bioskop. Yang ngajak seorang bapak-bapak. Pak Wena, usianya hampir 60 tahun. Kami bertemu beberapa menit yang lalu di toilet lantai 4 Atrium Senen.
Setelah saling pandang mata dan mengernyitkan alis,
“Dik, kita nonton di seberang yok” Aku tahu itu adalah Bioskop Mulia tempat para gay Jakarta berasyik ria saling peras, remas, lumat, isep, kulum dan teguk sperma. Pak Wena nampak sangat ‘ngebet’ melihati aku. Belakangan aku baru tahu bahwa dia adalah staf ahli salah satu departemen RI. Dia adalah profesor dalam bidang ilmu sosial.
Sesudah ngantre (Pak Wena minta aku yang antre, khawatir bawahannya yang melihatnya), kami memasuki ruang gelap untuk mencapai kursi kami. Seorang petugas dengan lampu senternya mengantar hingga kami duduk. Aku sengaja pilih deretan kursi kosong. Namun siang itu ternyata tak banyak penonton. Dari sekitar 100 kursi rasanya hanya sekitar 10 atau 15 kursi saja yang terisi.
Begitu duduk Pak Wena langsung mengamplok aku. Dia ciumi leherku, bahuku, tengkukku dan kemudian melumat-lumat bibirku. Tangannya sangat terampil. Sambil mencium dia lepasi kancing zip celanaku dan menariknya ke bawah. Dengan sedikit mengangkat pantat aaku membantu agar memudahkan celanaku merosot. Tangan Pak Wena langsung merogohi kemaluanku,
“Gede banget, Dik. Boleh dong aku jilat-jilat?!,” katanya sambil melepas kacamatanya dan kemudian merunduk menjemput arah selangkanganku. Dia menjilati dan mulai mengisep, menjilat dan mengulum kontolku. Aku serasa terbang. Syahwat dan jilatan Pak Wena memberikan nikmat tak terhingga. Orang tua macam Pak Wena sangat sabar. Kurasakan ujung lidahnya menggelitik pelan di ujung lubang kencingku.
Untuk memberikan sensasi padanya aku remasi kepalanya. Kujambak tarik rambutnya untuk menunjukkan birahiku yang melanda. Aku mengeluarkan desahan ke dekat kupingnya. Jilatan Pak Wena pada batang kontolku nampak semakin menggila.
Sesudah cukup pegal menunduk Pak Wena bangkit dan memberikan kesempatan padaku. Aku raba dan remasi selangkangannya. Kurasakan kontol Pak tua ini masih seperti batu panas. Aku lepaskan resluitingnya dan kutarik merosot celananya. Kini aku ganti melumat. Kontol Pak Wena kuhela keluar dari celana dalamnya dan ku kulum. Precumnya terasa sangat asin. Aku mengerang penuh nikmat. Pak Wena ganti mengelusi punggung dan rambutku.
Akhirnya kurasakan kontol Pak tua ini semakin tegang dan membesar. Pasti keinginan untuk tumpah sudah mendesaki syahwat Pak Wena. Aku memompa lebih kencang dan mempersempit jepitan bibirku.
Dengan geliat dan desahan tak tertolak Pak Wena meremas punggungku. Aku bersiap untuk menerima tumpahan sperma Pak tua. Dan.. Aarrcchh.. Nikmatnyaa.. Mulutku yang penuh terjejali kontol Pak tua kini menerima lahar panas sperma kentalnya. Aku merasakn gurihnya, pahitnya, asinnya, lengket dan kentalnya. Semua sperma Pak Wena kutelan ludas tanpa cecer. Aku sangat menyukai situasi macam begini.
Sesudah istirahat sejenak kembali Pak Wena merangsang nafsuku. Kontolku dielusi, diremas dan dikocok-kocoknya hingga kembali tegar berdiri. Namun aku merasakan Pak Wena tidak lagi bergairah sebagaimana awalnya tadi. Aku agak kasihan juga. Sebaiknya aku toleransi dan memaklumi faktor usianya,
“Kalau bapak capek, sudah saja. Kita kembali saja ke Atrium, OK?” ternyata dia langsung setuju. Namun kami sepakat langsung berpisah begitu keluar dari bioskop itu. Aku sendiri kembali ke Atrium untuk kembali memburu atau diburu pria lain.
Sekian dulu, lain waktu nyambung lagi
